Friday, May 29, 2015

Beda Antara Nikah Mut'ah dan Nikah Biasa

Saya kadang iba dengan rekan-rekan Syi’ah yang sering dijadikan bulan-bulanan kaum muslimin (baca : Ahlus-Sunnah) karena melakukan nikah mut’ah yang kemudian dianggap sebagai bentuk perzinahan berkedok agama. Banyak sekali tulisan yang mereka susun dan kumpulkan, dengan berbagai kemasan bahasa (‘Arab, Inggris, Melayu, dan Indonesia), menyebutkan kesamaan atau kemiripannya dengan zina. Diantara bukti yang berhasil terkoleksi perihal nikah mut’ah antara lain adalah :

1.     Syarat utamanya hanyalah mahar dan durasi pernikahan saja.
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ لَا تَكُونُ مُتْعَةٌ إِلَّا بِأَمْرَيْنِ أَجَلٍ مُسَمًّى وَ أَجْرٍ مُسَمًّى
Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Tidak terjadi nikah mut’ah kecuali dengan dua perkara, yaitu : (durasi) waktu tertentu dan mahar tertentu” [Al-Kaafiy oleh Al-Kulainiy, 5/455].
Mahar di sini dapat dianalogkan dengan upah, sebagaimana difatwakan oleh Ayatullah Ar-Ruuhaaniy berikut :
Pertanyaan :
“Suatu saat, saya pernah perli ke Night Club. Ada seorang pelacur meminta kepada saya uang sekitar 100 dolar. Aku pun membayarnya. Lantas ia berkata kepadaku : ‘Engkau boleh nikahi mut’ah seluruh badanku sebagai imbalan uang yang engkau berikan. Namun durasinya hanya sehari saja’. Apakah yang seperti ini dapat dianggap sebagai pernikahan mut’ah ?”.
Ar-Ruuhaaniy menjawab :
“Dengan menyebut nama Allah,.... Apabila yang ia katakan adalah dengan tujuan pernikahan, dan engkau pun berkata setelah itu : ‘aku terima bagi diriku yang demikian’, maka yang seperti itu adalah pernikahan mut’ah”.
Berikut screen shot fatwa dimaksud :

2.     Boleh tanpa (izin) wali.
Abu 'Abdillah 'alaihis-salaam pernah berkata :
لا بأس بتزويج البكر إذا رضيت من غير إذن أبيها
"Tidak mengapa menikahi gadis apabila ia ridla meskipun tanpa izin ayahnya" [Risaalah Al-Mut'ah oleh Al-Mufiid, hal. 10. Disebutkan juga dalam Tahdziibul-Ahkaam oleh Ath-Thuusiy 7/254].
Dari Abu Sa'iid (perawi Syi'ah), ia berkata :
سئل أبو عبد الله عليه السلام عن التمتع من الابكار اللواتي بين الأبوين فقال: لا بأس ولا أقول كما يقول هؤلاء الأقشاب
Abu 'Abdillah 'alaihis-salaam pernah ditanya tentang nikah mut'ah gadis masih ada di tengah orang tua mereka. Ia menjawab : "Tidak mengapa, dan aku tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh para penjahat itu" [Tahdziibul-Ahkaam, 7/254].
Ayatullah Ar-Ruuhaniy pernah ditanya :
“Apakah dimakruhkan dalam pernikahan mut’ah dengan seorang gadis apabila telah diizinkan oleh ayahnya ?. Apa hukumnya nikah mut’ah dengan seorang gadis jika : (a) ayahnya tidak menyetujuinya, atau (b) ayahnya tidak mengetahui adanya pernikahan mut’ah tersebut, atau (c) ayahnya telah meninggal ?”.
Ia (Ar-Ruuhaniy) menjawab :
“Dengan menyebut nama Allah,... pernikahan mut’ah dengan seorang gadis diperbolehkan dalam segala bentuknya apabila ia telah dewasa/baligh. Tidak ada bedanya (dalam hal kebolehannya) baik ayahnya ada atau tidak ada, baik dengan atau tanpa izinnya”.



3.     Boleh tanpa saksi dan bukti.
عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَعْيَنَ قَالَ سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنِ الرَّجُلِ يَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ بِغَيْرِ شُهُودٍ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِتَزْوِيجِ الْبَتَّةِ فِيمَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اللَّهِ إِنَّمَا جُعِلَ الشُّهُودُ فِي تَزْوِيجِ الْبَتَّةِ مِنْ أَجْلِ الْوَلَدِ لَوْ لَا ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ بِهِ بَأْسٌ
Dari Zuraarah bin A’yan, ia berkata : Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menikahi wanita tanpa ada saksi-saksi, maka ia menjawab : “Tidak mengapa dengan pernikahan yang terjadi antara dirinya dan Allah. Dijadikan saksi-saksi dalam pernikahan itu hanyalah karena (keberadaan) anak (yang dihasilkan). Jika tidak demikian[1], maka tidak mengapa” [Al-Kaafiy, 5/387].
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) فِي الرَّجُلِ يَتَزَوَّجُ بِغَيْرِ بَيِّنَةٍ قَالَ لَا بَأْسَ
Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam tentang seorang laki-laki yang menikah tanpa adanya bukti, maka ia menjawab : “Tidak mengapa” [idem].
Ulama Syi’ah yang bernama ‘Abdullah bin Ja’far Al-Himyariy pernah ditanya : “Apa yang engkau katakan tentang seorang laki-laki yang menikahi seorang wanita pada posisi ini atau yang lainnya tanpa ada bukti maupun saksi-saksi ?”.
Ia menjawab :
بلى، فانكحها في هذا الموضع وفي غيره بلا شهود ولا بينة 
“Ya, nikahilah ia tanpa ada bukti dan saksi-saksi” [Qurbul-Isnaad oleh ‘Abdullah bin Ja;far Al-Himyariy, hal. 252].
4.     Durasi nikah boleh hanya sepekan, sehari, bahkan dengan sekali senggama saja.
عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ يُشَارِطُهَا مَا شَاءَ مِنَ الْأَيَّامِ .
Dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam, ia berkata : “Ia boleh mensyaratkannya durasi hari nikah mut’ahnya sekehendaknya” [Al-Kaafiy, 5/459].
عَنْ زُرَارَةَ قَالَ قُلْتُ لَهُ هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَتَمَتَّعَ الرَّجُلُ بِالْمَرْأَةِ سَاعَةً أَوْ سَاعَتَيْنِ فَقَالَ السَّاعَةُ وَ السَّاعَتَانِ لَا يُوقَفُ عَلَى حَدِّهِمَا وَ لَكِنَّ الْعَرْدَ وَ الْعَرْدَيْنِ وَ الْيَوْمَ وَ الْيَوْمَيْنِ وَ اللَّيْلَةَ وَ أَشْبَاهَ ذَلِكَ .
Dari Zuraarah, ia berkata : Aku berkata kepadanya (imam, yaitu : Abu ‘Abdillah) : “Apakah boleh seorang laki-laki melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita selama satu atau dua jam ?”. Ia menjawab : “Satu atau dua jam itu tidak diketahui batas (akhirnya). Akan tetapi nikahlah sekali atau dua kali senggama[2], sehari atau dua hari, semalam, dan yang seperti itu” [idem].
عَنْ خَلَفِ بْنِ حَمَّادٍ قَالَ أَرْسَلْتُ إِلَى أَبِي الْحَسَنِ ( عليه السلام ) كَمْ أَدْنَى أَجَلِ الْمُتْعَةِ هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَتَمَتَّعَ الرَّجُلُ بِشَرْطِ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ قَالَ نَعَمْ
Dari Khalaf bin Hammaad, ia berkata : Aku menyuruh orang untuk menemui Abul-Hasan ‘alaihis-salaam untuk bertanya : “Berapa durasi minimal pernikahan mut’ah ? Bolehkah seorang laki-laki mensyaratkan sekali senggama saja ?”. Ia menjawab : “Ya, boleh” [idem, 5/460].
5.     Tidak ada batasan maksimal jumlah wanita yang dimut'ah.
عَنْ عُمَرَ بْنِ أُذَيْنَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ كَمْ تَحِلُّ مِنَ الْمُتْعَةِ قَالَ فَقَالَ هُنَّ بِمَنْزِلَةِ الْإِمَاءِ .
Dari ‘Umar bin Adzainah, dari Abu ‘Abdillah ‘alaihis-salaam; ia (‘Umar) berkata : Aku bertanya kepada Abu ‘Abdillah : “Berapa banyak wanita dihalalkan dinikahi dari nikah mut’ah ?”. Ia menjawab : “Mereka (wanita) kedudukannya seperti budak” [Al-Kaafiy oleh Al-Kulainiy, 5/451].
Maksudnya, karena kedudukan wanita dalam nikah mut’ah seperti kedudukan budak, maka tidak ada batasan jumlah sebagaimana pernikahan permanen yang maksimal hanya 4 orang.
عَنْ بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَزْدِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ أَ هِيَ مِنَ الْأَرْبَعِ فَقَالَ لَا .
Dari Bakr bin Muhammad Al-Azdiy, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Abul-Hasan ‘alaihis-salaam tentang nikah mut’ah, apakah ia hanya boleh maksimal empat ?”. Ia menjawab : “Tidak” [idem].
عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَعْيَنَ قَالَ قُلْتُ مَا يَحِلُّ مِنَ الْمُتْعَةِ قَالَ كَمْ شِئْتَ
Dari Zurarah bin A’yan, ia berkata : Aku pernah bertanya : “Apa yang dihalalkan dari nikah mut’ah ?”. Imam (Abu ‘Abdillah) menjawab : “Berapapun yang engkau suka” [idem].
6.     Tidak ada talak.
Jika durasi waktu sudah habis, pernikahan bubar dengan sendirinya.
عَنْ زُرَارَةَ قَالَ عِدَّةُ الْمُتْعَةِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ يَوْماً كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَعْقِدُ بِيَدِهِ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ فَإِذَا جَازَ الْأَجَلُ كَانَتْ فُرْقَةٌ بِغَيْرِ طَلَاقٍ
Dari Zuraarah, ia berkata : “Masa ‘iddah dalam nikah mut’ah adalah empatpuluh lima hari. Seakan-akan aku melihat pada Abu Ja’far ‘alaihis-salaam mengisyaratkan dengan tangannya bilangan empatpuluh lima. Apabila waktu sudah habis, mereka pun berpisah (bubar) tanpa perlu thalaq” [idem, 5/458].
7.     Boleh nikah mut'ah berkali-kali dengan laki-laki/wanita yang sama.
عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ جُعِلْتُ فِدَاكَ الرَّجُلُ يَتَزَوَّجُ الْمُتْعَةَ وَ يَنْقَضِي شَرْطُهَا ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا رَجُلٌ آخَرُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا الْأَوَّلُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثَلَاثاً وَ تَزَوَّجَتْ ثَلَاثَةَ أَزْوَاجٍ يَحِلُّ لِلْأَوَّلِ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا قَالَ نَعَمْ كَمْ شَاءَ لَيْسَ هَذِهِ مِثْلَ الْحُرَّةِ هَذِهِ مُسْتَأْجَرَةٌ وَ هِيَ بِمَنْزِلَةِ الْإِمَاءِ .
Dari Zuraarah, dari Abu Ja’far ‘alaihis-salaam; ia (Zuraarah) berkata : Aku berkata kepadanya : “Seorang laki-laki melakukan nikah mut'ah dengan seorang wanita hingga persyaratannya terselesaikan (habis waktunya sehingga bubar/pisah). Lalu ada laki-laki lain menikahinya (secara mut’ah) hingga selesai (bubar/pisah). Kemudian laki-laki yang pertama tadi menikahinya kembali (secara mut’ah) sampai tiga kali. Kemudian wanita tadi melakukan nikah mut’ah dengan tiga orang laki-laki. Apakah laki-laki yang pertama masih diperbolehkan menikahinya kembali (secara mut’ah) ?”. Abu Ja’far menjawab : “Ya, berapa kali pun boleh sesuai kehendaknya. Wanita yang dinikahi mut’ah ini tidaklah seperti wanita merdeka (yang dinikahi permanen). Wanita ini adalah wanita sewaan yang kedudukannya seperti budak” [idem, 5/460].
8.     Tidak perlu menyelidiki apakah si wanita sudah menikah atau berprofesi sebagai wanita jalang.
عن فضل مولى محمد بن راشد عن أبي عبد الله عليه السلام قال: قلت اني تزوجت امرأة متعة فوقع في نفسي أن لها زوجا ففتشت عن ذلك فوجدت لها زوجا قال: ولم فتشت؟!.
Dari Fadhl maulaa Muhammad bin Raasyid, dari Abu 'Abdillah 'alaihis-salaam; aku (Fadhl) berkata : "Sesungguhnya aku menikah dengan seorang wanita secara mut'ah. Lalu timbullah dalam hatiku (keraguan) bahwasannya ia sudah mempunyai suami. Kemudian aku selidiki tentang hal itu, dan ternyata aku dapati ia memang sudah mempunyai suami". Abu 'Abdillah berkata : "Dan kenapa pula engkau selidiki ?" [Tahdziibul-Ahkaam, 7/253].
عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِنِّي أَكُونُ فِي بَعْضِ الطُّرُقَاتِ فَأَرَى الْمَرْأَةَ الْحَسْنَاءَ وَ لَا آمَنُ أَنْ تَكُونَ ذَاتَ بَعْلٍ أَوْ مِنَ الْعَوَاهِرِ قَالَ لَيْسَ هَذَا عَلَيْكَ إِنَّمَا عَلَيْكَ أَنْ تُصَدِّقَهَا فِي نَفْسِهَا
Dari Abaan bin Tsaghlib, ia berkata : Aku pernah berkata kepada Abu 'Abdillah 'alaihis-salaam : "Sesungguhnya aku pernah berada di jalanan, lalu aku melihat seorang wanita cantik (dan ingin aku nikahi), namun aku merasa tidak aman jangan-jangan ia sudah punya suami atau termasuk wanita jalang". Abu 'Abdillah berkata : "Bukan kewajibanmu untuk untuk menyelidikinya. Yang wajib bagimu adalah membenarkan pengakuannya terhadap dirinya saja" [Al-Kaafiy, 5/462].
Saya mencoba membayangkan gambaran pernikahan mut’ah dengan 8 point di atas. Hasilnya memang sangat mirip dengan yang disangkakan para pegiat anti-mut’ah : zina, protitusi berkedok agama.
Bisa jadi razia protitusi Satpol PP di hotel-hotel melati akan mengalami kegagalan jika semua orang yang tertangkap mengaku telah menikah secara mut’ah. Tak perlu wali, saksi, bukti, boleh dengan sekali senggama, dan pernikahan otomatis bubar ketika sudah dirazia.
Mencermati video di atas, saya menjadi tidak terlalu terkejut jika ‘Iraan menjadi satu-satunya negara Timur Tengah yang punya pabrik kondom [sumber : sini dan sini].
Tapi, sebagaimana tertera pada judul, tak adil rasanya jika Anda terus mencaci mereka (Syi’ah) dengan menyamakan mut’ah dengan zina, yang kemudian Anda membutakan diri pada fakta bahwa keduanya mempunyai perbedaan.
Perbedaannya adalah orang yang melakukan zina mengakui bahwa dirinya melakukan dosa besar yang diancam neraka; sedangkan orang Syi’ah melakukan mut’ah karena merasa benar dan mengharapkan dengannya surga dan keutamaan dari Allah ta’ala. Diantaranya mereka bersandar pada riwayat Al-Baaqir (salah satu imam Syi’ah) :
للمتمتع ثواب؟ قال: إن كان يريد بذلك الله عز وجل ، وخلافا لفلان ، لم يكلمها كلمة إلا كتب الله تعالى له بها حسنة، ولم يمد يده إليها إلا كتب الله له حسنة، فإذا دنا منها غفر الله تعالى له بذلك ذنبا، فإذا اغتسل غفر الله له بقدر ما مر من الماء على شعره، قلت: بعدد الشعر؟ قال: نعم بعدد الشعر 
"Adakah orang yang melakukan mut’ah mendapat pahala?”. Dia (Al-Baaqir) menjawab: "Jika dia melakukannya (mut'ah) karena Allah 'Azza wa Jalla  dan menyelisihi si fulan, maka tidaklah dia (orang yang melakukan mut'ah) berbicara dengannya (perempuan yang dimut'ah) satu kalimah melainkan Allah memberikan kepadanya satu kebaikan. Tidaklah dia menghulurkan tangannya kepadanya melainkan Allah menuliskan untuknya satu kebaikan. Bila dia menghampiri perempuan itu (bersetubuh), maka Allah Ta’ala mengampunkannya dengan perbuatan tersebut. Bila ia mandi, maka Allah mengampunkannya sebanyak air yang mengalir di atas bulunya”. Aku (perawi) berkata: “Sebanyak jumlah bulu? Al-Baaqir menjawab: “Ya! Sebanyak jumlah bulu" [Mustadrak Al-Wasaail, no. 17257 – sumber : sini].
Memang cukup menggiurkan janji-janji bagi para pelaku mut’ah.
Pelaku zina merasa sedih karena diancam neraka, pelaku mut’ah bersuka-ria karena mendapatkan ampunan dan surga.
Sesekali Anda mesti mengangkat perbedaan ini agar terasa lebih adil bagi mereka dan juga kita.... Setuju ??!
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor - 22091434/31072013 – 01:19].

 

Syarat Nikah Mu'tah

SYARAT-SYARAT DALAM NIKAH MUTÁH

I. Adanya Ijab Qabul dengan menggunakan dua kata yang dapat menunjukan atau menimbulkan pengertian yang dimaksud dan rela dengan pernikahan mut’ah dengan cara yang dimengerti kedua belah pihak. Dengan demikian, maka tidak sah dengan hanya sekedar adanya perasaan rela dalam hati dari kedua belah pihak (suami dan isteri) atau dengan saling memberi (sesuatu) sebagaimana yang berlaku pada kebanyakan akad (transaksi) atau dengan tulisan ataupun pula dengan isyarat (kecuali) bagi orang yang bisu.

II. Mengerti dengan yang dimaksudkan dari kata-kata:
• Aku mut’ahkan (Matta’tu)
• Aku nikahkan (Ankahtu)
• Aku kawinkan ( Zawwajtu)

Dengan demikian, maka tidak sah hanya dengan sekedar menggerakan lidah mengucapkan kata-kata di atas (tanpa mengerti maksudnya) namun harus sadar, bahwa dengan pengucapan kata-kata tersebut memang berkeinginan untuk mewujudkan hubungan perkawinan yang khusus sesuai dengan pengertian nikah mutah. Diperkenankan mempergunakan kata-kata lain yang dapat mengungkapkan pengertian yang sama dengan kata-kata di atas dan bias dimengerti serta diterima oleh yang bersangkutan.
III. Ijab dan Qabul harus dengan bahasa arab bagi yang mampu mengucapkannya walaupun (kedua pihak) melalui sistem perwakilan. Bagi yang tidak mampu berbahasa arab, diperkenankan menggunakan bahasa lain dengan syarat pengertiannya sama dengan yang dimaksud dalam bahasa arabnya.

IV. Pengucapan Ijab dari pihak isteri dan Qabul dari pihak suami bisa dilakukan secara langsung oleh yang bersangkutan atau melalui perwakilan masing-masing.

V. Kalimat Ijab harus mendahului Qabul bila kalimat Qabul mempergunakan lafadz :
• Aku terima ( Qobiltu)

VI. Kalimat Ijab diperkenakan hanya dengan mempergunakan salah satu dari tiga macam lafadz:
• Aku mut’ahkan (Matta’tu)
• Aku nikahkan (Ankahtu)
• Aku kawinkan (Zawwajtu)
Nikah mut’ah menjadi tidak sah bila mempergunakan kalimat yang lain seperti:
• Aku milikkan (Malakktu)
• Aku berikan (Wahabtu)
• Aku sewakan (Ajjartu)
Adapun kalimat Qabul, maka cukup dengan mempergunakan kalimat apa saja yang sekiranya dapat menimbulkan pengertian rasa rela dengan Ijab yang diterimakannya, seperti:
• Aku terima Mut’ah…..(Qabiltu Mut’atah…)
• Aku terima kawin…..(Qabiltu Tazwij…..)
• Aku terima nikah……(Qabiltu Nikahah…..)
Dan pernikahan tetap sah seandainya diringkas saja dengan kalimat seperti:
• Aku terima (Qobiltu)
• Aku rela (Rodhitu)
Seandainya terbalik, suami yang mengucapkan Qabul terlebih dahulu dengan berkata:
“Aku mengawinimu dengan mas kawin sekian…..dan untuk jangka waktu sekian….”.
maka pernikahan tersebut tetap sah.
VII. Menyebutkan Mahar (mas kawin) yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (suami-isteri) dan menentukan kadarnya, baik dari segi bentuknya maupun jumlahnya dengan cara-cara yang dapat menghilangkan kesalah fahaman. Selain itu, mahar tersebut harus milik dari suami itu sendiri yang diperolehnya secara halal baik sedikit ataupun banyak bahkan meskipun berupa segenggam makanan.

VIII. Menyebutkan jangka waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, baik lama maupun sebentar saja dan pula harus disepakati bentuk waktunya, seperti berapa hari, bulan atau tahun secara tegas dan jelas sehingga tidak bisa lebih atau kurang dari jangka waktu yang telah ditentukan tersebut, dan pula harus ditentukan macam kalender yang diinginkan, apakah Masehi atauHijriyah.

IX. Antara suami isteri yang kawin mut’ah tidak boleh masih dalam ikatan muhrim, baik karena adanya nasab dan garis keturunan secara langsung ataupun tidak langsung, seperti Bibi baik dari pihak ibu ataupun bapak, atau karena ikatan mertua seperti ibu isteri, isteri bapak, isteri anak, atau anak tiri yang ibunya telah dikawininya dan disetubuhinya, atau wanita yang masih bersuami atau pula wanita yang sudah dicerai atau ditinggal mati suaminya namun belum habis masa iddahnya.

X. Wanita yang dikawini secara Mut’ah harus ber’iddah terhitung setelah habisnya masa perkawinan yang telah disepakati sebelumnya, atau bila seandainya suaminya telah menghibahkan masa mut’ahnya kepadanya sehingga tanpa perlu adanya perceraian karena si wanita akan langsung berpisah dari suaminya itu dan tidak boleh rujuk kembali, maka dalam hal ini ‘iddahnya adalah sebagai berikut:

a) Apabila si isteri sudah pernah disetubuhi, dan dia bukan anak kecil dan bukan pula wanita tua yang sudah tidak berhaid lagi, maka ‘iddahnya adalah dua kali haid (menstruasi) dengan catatan, bahwa haidnya berlaku secara teratur.
b) Apabila umurnya sudah mencapai masa haid (+ 9 – 10 th), namun belum juga berhaid, maka haidnya adalah 45 hari.
c) Apabila sedang dalam keadaan hamil, maka ‘iddahnya dipilih yang paling lama di antara dua hal:
• Melahirkan
• 4 bulan 10 hari.
Dalam hal ini, Nikah Mut’ah itu sama saja dengan yang berlaku pada nikah biasa. Nikah Mut’ah diperkenankan dengan wanita Ahli kitab. yaitu wanita Nasrani, dan Yahudi, namun tidak diperkenankan dengan wanita musyrik, dan yang telah murtad (keluar) dari Islam.
XI. Pada nikah mut’ah, tidak diperkenankan mengumpulkan (mengawini) dua wanita bersaudara sekaligus, sama seperti yang berlaku pada nikah biasa. Dan juga tidak diperkenankan menikahi seorang Bibi bersama-sama dengan keponakannya, baik dari pihak saudara laki-laki ataupun perempuan kecuali atas izin dan perkenaan dari si bibi tersebut.

XII. Dengan adanya akad nikah, si isteri sudah mempunyai hak pemilikan secara penuh atas mas kawin sehingga bila dia memintanya maka si suami harus segera memberikannya. Kedua belah pihak tidak saling mewarisi harta-benda masing-masing kecuali apabila keduanya sudah membuat persyaratan atau perjanjian sebelumnya pada saat pelaksanaan akad nikah, maka dalam hal ini keduanya mempunyai hak waris sesuai dengan isi persyaratan atau perjanjian yang telah disepakati tersebut.

XIII. Suami tidak wajib memberikan nafkah kepada isteri kecuali bila si isteri telah mensyaratkan adanya nafkah pada saat pelaksanaan akad nikah dan disetujui, maka suami harus memberikan nafkah kepadanya dalam bentuk dan jumlah sesuai dengan isi persyaratan yang telah disetujuinya.

XIV. Pihak yang berhak memberikan akad nikah (isteri) harus sudah baliqh, berakal, mengerti maksudnya dan memang sengaja ingin mengadakan nikah Mut’ah, yakni ketika ia mengatakan kalimat : Matta’tu (Aku mut’ahkan) atau Ankahtu (Aku nikahkan) atau Zawwajtu (Aku kawinkan). Maka ia itu memang berkeinginan untuk mewujudkan nikah mutah yang dimaksud secara nyata dan bukan hanya merupakan ungkapan cerita yang bersifat fiktif (seperti dalam drama). Pihak yang menerima akad nikah (suami) juga harus sudah baliqh, berakal dan ketika mengucapkan kalimat : “Aku terima…’’ Maka, ia harus bersungguh-sungguh memang mau menerima apa yang diucapkan oleh si pemberi akad (isteri) dan berkeinginan untuk mewujudkannya secara nyata. Dalam hal ini, nikah mut’ah tidak berbeda dengan yang berlaku pada nikah biasa.

XV. Masing-masing dari suami isteri yang bersangkutan harus tertentu, dalam arti harus jelas dan tidak kabur dengan orang lain yang bukan pasangannya, baik nama, gelar maupun sifatnya.

XVI. Pelaksanaan Ijab dan Qabul harus berlangsung secara beruntun, dan tidak boleh terpisahkan pada saat pelaksanaan akad nikah dan harus terlaksana tanpa menunggu keberadaan suatu syarat atau terkait dengan datangnya waktu tertentu. Kemudian nikah mutah tersebut bisa terlaksana dengan adanya penyelesaian secara langsung oleh suami isteri yang bersangkutan, dan setelah kedua belah pihak bersepakat perihal penentuan waktu dan mas kawin maka si isteri harus berkata kepada suami (bisa memilih satu dari tiga kalimat berikut) :
Matta’tu nafsi minka = “Aku mut’ahkan diriku kepadamu” atau
Zawwajtu nafsi minka = “Aku kawinkan diriku kepadamu” atau
Ankahtu nafsi minka… ‘ala maharin qodruhu mi’ata dinar minal aan ila asro siniin =
“Aku nikahkan diriku untukmu dengan mas kawin sebesar seratus dinar (misalnya, bisa lebih atau kurang sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak) dari sekarang sampai sepuluh tahun (misalnya, bisa lebih atau kurang sesuai dengan persetujuan dari kedua belah pihak) kemudian suami menjawab (bisa memilih satu dari kalimat berikut ini) :
Qobiltu mut’atah…= Aku terima mut’ahnya…
Qobiltu tazwij….= Aku terima kawinnya….
Qobiltu nikah….linafsi minka ala mahril ma’lum wal ajalil maklum…=
“Aku terima nikahnya…darimu untuk diriku dengan mas kawin dan tempo waktu (sesuai kesepakatan bersama) yang telah dimaklumi”
Akad nikah mut’ah bisa dilaksanakan melalui wakil dari kedua mempelai, atau melalui wali dari masing-masing mempelai, atau pula melalui wakil dari mempelai wanita dengan calon suaminya dan sebaliknya. Pelaksanaan akad nikah melalui perwakilan atau perwalian tersebut tidak berbeda tata-caranya dengan yang dilaksanakan secara langsung oleh kedua mempelai sebagaimana telah disebutkan di atas.



Karya As-Sayid Amir Muhammad Al-Kadzimi Al-Quzwayni
Diterjemahkan dari buku “Al-Mut’ah Baina Al-Ibaahah wal Hurmah



 

Seandainya Aku Lakukan Demikian dan Demikian

Seri terakhir dari dua tulisan Posting kali ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya. Semoga bermanfaat.
Jika Tidak Memperoleh Sesuai yang Diinginkan, Janganlah Katakan: “Seandainya Aku Lakukan Demikian dan Demikian, pasti …” Lalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’” Maksudnya di sini adalah setelah engkau semangat dan giat melakukan sesuatu, juga engkau tidak lupa meminta pertolongan pada Allah, serta engkau terus melakukan amalan tersebut hingga usai, namun ternyata hasil yang dicapai di luar keinginan, maka janganlah engkau katakan: “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian”. Karena mengenai hasil adalah di luar kemampuanmu. Kamu memang sudah melaksanakan sesuatu prosedur yang diperintahkan, namun Allah pasti tidak terkalahkan dalam setiap putusan-Nya.
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21)
Misalnya: Seseorang ingin melakukan perjalanan jauh dalam rangka mengunjungi saudaranya. Namun di tengah jalan mobil yang dia gunakan rusak. Akhirnya dia pun kembali, lalu berkata: Seandainya aku tadi menggunakan mobil lain tentu tidak akan seperti ini. Kami katakan: Janganlah engkau katakan demikian. Engkau memang sudah giat melakukan amalan tersebut. Seandainya Allah menghendakimu sampai ke tempat tujuan, itu pun karena takdir-Nya. Akan tetapi saat ini, Allah tidak menghendakinya.
Kenapa Tidak Boleh Mengatakan “Seandainya Aku Melakukan Demikian dan Demikian, pasti …”? Jika seseorang telah mencurahkan seluruh usaha untuk melakukan suatu amalan, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai keinginan, maka pada saat ini hendaklah ia menyandarkan segala urusannya pada Allah karena hanya Dia-lah yang menakdirkan segalanya. Oleh karena itu, maksud hadits ini adalah: “Jika engkau telah mencurahkan seluruh usahamu, juga tidak lupa meminta pertolongan pada Allah, lalu hasilnya tidak tercapai, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku melakukan demikian, maka nanti akan demikian dan demikian’.” Ketetapan mengenai hal ini telah ada, tidak mungkin hal tersebut dirubah kembali. Urusan tersebut telah ditetapkan di Lauh Al Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi 50.000 tahun yang lalu. Apa hikmah tidak boleh mengatakan ‘Seandainya aku melakukan demikian, maka pasti akan demikian dan demikian’? Hal ini diterangkan dalam perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya, “Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” Maksudnya apa? Yaitu perkataan law (seandainya) dalam keadaan seperti ini akan membuka rasa was-was, sedih, timbul penyesalan, dan kegelisahan. Akibatnya karena rasa sedih semacam ini, engkau pun mengatakan, “Seandainya aku melakukan demikian, maka pasti akan demikian dan demikian”.
Apakah Semua Perkataan Seandainya Terlarang? Kata ‘law (seandainya atau andaikata)’ biasa digunakan dalam beberapa keadaan dengan hukum yang berbeda-beda. Berikut rinciannya sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Qoulul Mufid (2/220-221), juga oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di dalam Bahjatul Qulub (hal. 28) dan ada beberapa contoh dari kami.
Pertama: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk memprotes syari’at, dalam hal ini hukumnya haram. Contohnya adalah perkataan: “Seandainya judi itu halal, tentu kami sudah untung besar setiap harinya.”
Kedua: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk menentang takdir, maka hal ini juga hukumnya haram. Semacam perkataan: “Seandainya saya tidak demam, tentu saya tidak akan kehilangan kesempatan yang bagus ini.”
Ketiga: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk penyesalan, ini juga hukumnya haram. Semacam perkataan: “Seandainya saya tidak ketiduran, tentu saya tidak akan ketinggalan pesawat tersebut.”
Keempat: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk menjadikan takdir sebagai dalih untuk berbuat maksiat, maka hukumnya haram. Seperti perkataan orang-orang musyrik:
وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ “Dan mereka berkata: Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki , tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” (QS. Az Zukhruf: 20)
Kelima: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan untuk berangan-angan, ini dihukumi sesuai dengan yang diangan-angankan karena terdapat kaedah bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan. Jadi, apabila yang diangan-angankan adalah sesuatu yang jelek dan maksiat, maka kata andaikata dalam hal ini menjadi tercela dan pelakunya terkena dosa, walaupun dia tidak melakukan maksiat. Misalnya: “Seandainya saya kaya seperti si fulan, tentu setiap hari saya bisa berzina dengan gadis-gadis cantik dan elok.” Namun, apabila yang dianggan-angankan adalah hal yang baik-baik atau dalam hal mendapatkan ilmu nafi’ (yang bermanfaat). Misalnya: “Seandainya saya punya banyak kitab, tentu saya akan lebih paham masalah agama”. Atau kalimat lain: “Seandainya saya punya banyak harta seperti si fulan, tentu saya akan memanfaatkan harta tersebut untuk banyak berderma.”
Keenam: Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan hanya sekedar pemberitaan, maka ini hukumnya boleh. Contoh: “Seandainya engkau kemarin menghadiri pengajian, tentu engkau akan banyak paham mengenai jual beli yang terlarang.” Haruslah Engkau Yakin, Semua Ini Adalah Takdir Allah Setelah kita berusaha melakukan yang bermanfaat, lalu tidak lupa memohon pertolongan pada Allah dan kita tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, janganlah sampai lisan ini mengatakan: “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian, …” Oleh karena itu, Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah”. Maksudnya adalah ini semua sudah menjadi takdir dan ketetapan-Nya. Apa saja yang Allah kehendaki, pasti Dia laksanakan. إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”(QS. Huud: 107)
Tidak ada seorang pun yang berada di bawah kekuasaan-Nya mencegah kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu, pasti terjadi. Akan tetapi, wajib engkau tahu bahwa Allah subhnahu wa ta’ala tidak melainkan sesuatu melainkan ada hikmah di balik itu yang tidak kita ketahui atau pun sebenarnya kita tahu. Yang menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Insan: 30)
Ayat di atas menjelaskan bahwa kehendak Allah berkaitan dengan hikmah dan ilmu. Betapa banyak perkara yang terjadi pada seseorang, namun di balik itu ada akhir yang baik. Sebagaimana pula Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)
Banyak cerita mengenai hal ini. Ada sebuah kejadian kecelakaan pesawat terbang di Saudi Arabia yaitu penerbangan Riyadh-Jeddah. Penumpang yang akan menaiki pesawat terbang tersebut adalah lebih dari 300 penumpang. Salah satu pria yang akan menaiki pesawat tersebut pada saat itu sedang menunggu di ruang keberangkatan, namun ketika itu dia tertidur. Kemudian diumumkan bahwa pesawat sebentar lagi akan berangkat. Ketika pria yang tertidur itu terbangun, ternyata pintu pesawat telah tertutup kemudian pesawat pun lepas landas. Akhirnya, pria tadi sangat sedih karena ketinggalan pesawat. Kenapa dia bisa ketinggalan pesawat? Namun, Allah memiliki ketetapan yaitu di tengah perjalanan ternyata pesawat tersebut mengalami kecelakaan. Subhanallah, laki-laki tersebut ternyat yang selamat. Awalnya dia sedih dan tidak suka karena ketinggalan pesawat. Namun ternyata hal itu baik baginya.
Oleh karena itu –saudaraku-, jika engkau telah mencurahkan seluruh usaha dan engkau meminta pertolongan pada Allah, namun hasil yang dicapai tidak seperti yang engkau inginkan, janganlah engkau merasa sedih hati. Janganlah engkau mengatakan, “Seandainya aku melakukan demikian dan demikian, pasti akan …”. Jika engkau mengatakan seperti ini, maka akan terbukalah pintu setan. Engkau pun akan merasa was-was, gelisah, sedih, dan tidak bahagia. Yang sudah terjadi memang sudah terjadi. Tugasmu hanyalah memasrahkan semua urusanmu pada Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu, katakanlah, “Apa yang Allah kehendaki, pasti terlaksana”. Mengambil Sebab Bukan Berarti Tidak Tawakkal Hadits ini juga menunjukkan beriman kepada takdir dan ketetapan Allah, di samping itu kita harus melakukan usaha (sebab). Dua hal inilah yang merupakan kaedah pokok yang ditunjukkan dalam dalil yang amat banyak dalam Al Kitab dan As Sunnah. Keadaan agama seseorang tidaklah sempurna melainkan dengan meyakini takdir dan melakukan usaha. Segala macam perkara pun tidak akan sempurna melainkan dengan dua hal ini. Karena maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, …”, ini maksudnya adalah perintah untuk melakukan usaha baik dalam urusan dunia maupun agama. Dalil yang lain yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً ”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310)
 
Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As Suyuthi mengatakan, “Al Baihaqi mengatakan dalam Syu’abul Iman:
Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi di pagi hari untuk mencari rizki. Jadi, yang dimaksudkan dengan hadits ini –wallahu a’lam-: Seandainya mereka bertawakkal pada Allah Ta’ala dengan pergi dan melakukan segala aktivitas dalam mengais rizki, kemudian melihat bahwa setiap kebaikan berada di tangan-Nya dan dari sisi-Nya, maka mereka akan memperoleh rizki tersebut sebagaimana burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar, kemudian kembali dalam keadaan kenyang. Namun ingatlah bahwa mereka tidak hanya bersandar pada kekuatan, tubuh, dan usaha mereka saja, atau bahkan mendustakan yang telah ditakdirkan baginya. Karena ini semua adanya yang menyelisihi tawakkal.” (Darul Falihin, 1/335)
 
Al Munawi juga mengatakan,
”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8)
Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan,”Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rizkiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan,”Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69)  
Tak Pernah Usai Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, “Seandainya, kalau kita menelusuri terus kandungan hadits ini, niscaya kita akan dapati faedah yang amat banyak. Namun itulah manusia, terkadang mereka melanggar wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berharga ini.
Pertama, sebagian kita kurang bersemangat melakukan hal yang bermanfaat baginya, malah semangat jika melakukan hal yang berbahaya atau hal yang tidak ada bahaya dan manfaat. Siang dan malam hanya dia lewati dengan sia-sia, tanpa faedah, dan sirna begitu saja.
Kedua, jika dia memang melakukan hal yang bermanfaat, lalu dia tidak memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan, akhirnya dia akan menyesal. Perlahan-lahan keluar dari lisannya, “Seandainya saya melakukan ini dan ini, pasti akan …”. Sikap semacam ini tidaklah tepat. Selama seseorang sudah berusaha melakukan yang bermanfaat baginya dan tidak lupa meminta kemudahan dari Allah untuk menyelesaikan urusan tersebut, maka serahkanlah semuanya pada Allah.”
Referensi: 1. Bahjatu Qulub Al Abror wa Qurrotu ‘Uyuni Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Maktabah ‘Abdul Mushowwir Muhammad ‘Abdullah, cetakan pertama 1425 H.
2. Dalilul Falihin Li Thuruqi Riyadhis Sholihin, Muhammad ‘Ali bin Muhammad bin ‘Allan Asy Syafi’iy, Asy Syamilah
3. Qoulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama 1425 H.
4. Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Mawqi’ Jami Al Hadits An Nabawi
5. Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Asy Syamilah
6. Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Asy Syamilah ****
Disusun di saat Allah memberikan rahmat hujan, di saat hati gundah gulana Di rumah mertua tercinta, Panggang, Gunung Kidul, sore hari, 7 Rabi’ul Akhir 1430 H Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya Muhammad Abduh Tuasikal

Friday, May 22, 2015

Renungan Malam

Kadang sahabat yang suka traktir kita makan bukan karena mereka berkelebihan tapi karena mereka meletakkan persahabatan melebihi uang,

Kadang sahabat yang rajin bekerja bukan karena mereka sok pandai/ngoyo, tapi karena mereka memahami akan arti tanggung jawab,

Kadang sahabat yang memohon maaf lebih dulu bukan karena mereka salah tapi karena mereka menghargai orang di sekeliling mereka ..

Kadang yang sukarela membantu kita bukan karena mereka berhutang apa ke kita, tapi karena mereka melihat kita sebagai seorang sahabat ..

Kadang sahabat yg suka mmberi saran, kritikan & masukan ke kita bukan krena ia merasa sempurna, ttpi krena ia ingin melihat kta maju..

Kadang sahabat yang selalu BBM dan WA kita bukan karena mereka gak ada kerjaan apalgi narsis, ttapi karena mereka mengingat kita .,

Suatu hari kita semua akan terpisah,,
kita akan terkenang obrolan dan impian yang pernah ada,

Hari berganti hari, bulan, tahun, hingga hubungan ini menjadi renggang dan asing,

Hingga suatu hari nanti anak2 kita akan melihat foto2 kita dgn teman2 kita,
lalu mreka bertanya?

"Siapa mereka semua tuh, Ma/Bu/
Pa/Yah ... ?"

Dan kita tersenyum dengan air mata yang tak tampak, karena hati ini tergugah atas pertanyaan tsbt..

Lalu berkata,
"DENGAN MEREKALAH ADA HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP SAYA."

Renungan Malam

Renungan Malam

Kadang sahabat yang suka traktir kita makan bukan karena mereka berkelebihan tapi karena mereka meletakkan persahabatan melebihi uang,

Kadang sahabat yang rajin bekerja bukan karena mereka sok pandai/ngoyo, tapi karena mereka memahami akan arti tanggung jawab,

Kadang sahabat yang memohon maaf lebih dulu bukan karena mereka salah tapi karena mereka menghargai orang di sekeliling mereka ..

Kadang yang sukarela membantu kita bukan karena mereka berhutang apa ke kita, tapi karena mereka melihat kita sebagai seorang sahabat ..

Kadang sahabat yg suka mmberi saran, kritikan & masukan ke kita bukan krena ia merasa sempurna, ttpi krena ia ingin melihat kta maju..

Kadang sahabat yang selalu BBM dan WA kita bukan karena mereka gak ada kerjaan apalgi narsis, ttapi karena mereka mengingat kita .,

Suatu hari kita semua akan terpisah,,
kita akan terkenang obrolan dan impian yang pernah ada,

Hari berganti hari, bulan, tahun, hingga hubungan ini menjadi renggang dan asing,

Hingga suatu hari nanti anak2 kita akan melihat foto2 kita dgn teman2 kita,
lalu mreka bertanya?

"Siapa mereka semua tuh, Ma/Bu/
Pa/Yah ... ?"

Dan kita tersenyum dengan air mata yang tak tampak, karena hati ini tergugah atas pertanyaan tsbt..

Lalu berkata,
"DENGAN MEREKALAH ADA HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP SAYA."

Dua Belas Orang yang Didoakan Malaikat

DUA BELAS ORANG YANG DIDO'AKAN MALAIKAT

Berikut golongan-golongan yang didoakan oleh malaikat:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci."
(HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah
bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk
menunggu waktu sholat.
"Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'."
(HR Imam Muslim dari Abu Hurairah,
Shahih Muslim 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam sholat berjamaah.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada
shaf-shaf terdepan."
(Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra' bin 'Azib)

4. Orang yang menyambung shaf sholat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf). "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bersolawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf."
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu
Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan 'Aamiin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
"Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihimtwaladh
dhaaliinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'Aamiin', karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan
diampuni dosanya yang masa
lalu."
(HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat sholatnya setelah melakukan sholat. "Para malaikat akan selalu bersholawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat dimana ia
melakukan sholat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.'"
(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106).                                                  
7. Orang-orang yang melakukan sholat Shubuh dan Asar secara berjama'ah.
"Para malaikat berkumpul pada saat sholat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu sholat Ashar dan malaikat yang ditugaskan
pada siang hari (hingga sholat Ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan
mereka sedang melakukan sholat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan sholat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.'"
(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 9140)

8. Orang yang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa
sepengetahuan orang yang
didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut
berkata 'Aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.'"
(HR Imam Muslim dari Ummud Darda', Shahih Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.
"Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata,
'YDUA BELAS ORANG YANG DIDO'AKAN MALAIKAT

Berikut golongan-golongan yang didoakan oleh malaikat:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya.
Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci."
(HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah
bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk
menunggu waktu sholat.
"Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'."
(HR Imam Muslim dari Abu Hurairah,
Shahih Muslim 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam sholat berjamaah.
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada
shaf-shaf terdepan."
(Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra' bin 'Azib)

4. Orang yang menyambung shaf sholat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf). "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bersolawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf."
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu
Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan 'Aamiin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
"Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihimtwaladh
dhaaliinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'Aamiin', karena barang siapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan
diampuni dosanya yang masa
lalu."
(HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat sholatnya setelah melakukan sholat. "Para malaikat akan selalu bersholawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat dimana ia
melakukan sholat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.'"
(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106).                                                  
7. Orang-orang yang melakukan sholat Shubuh dan Asar secara berjama'ah.
"Para malaikat berkumpul pada saat sholat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu sholat Ashar dan malaikat yang ditugaskan
pada siang hari (hingga sholat Ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan
mereka sedang melakukan sholat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan sholat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.'"
(HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 9140)

8. Orang yang mendoakan
saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
"Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa
sepengetahuan orang yang
didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut
berkata 'Aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.'"
(HR Imam Muslim dari Ummud Darda', Shahih Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.
"Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata,
'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil).'"
(HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010)            

10. Orang yang sedang makan sahur
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur"
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah".
(HR Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar).                                          

11. Orang yang sedang menjenguk orang s [truncated by WhatsApp]a Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil).'"
(HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010)            

10. Orang yang sedang makan sahur
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur"
Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah".
(HR Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar).                                          

11. Orang yang sedang menjenguk orang s [truncated by WhatsApp]

Wednesday, May 20, 2015

Kenyataan Balas Sultan Brunei Terhadap Media Barat

Kenyataan Balas Sultan Brunei Terhadap Media Barat Yang Mengancamnya CNN dan media Barat kini sibuk mengancam Brunei sebab perlaksanaan und...ang-undang Syariah. Mereka memboikot semua hotel dan kepentingan Brunei. Berikut adalah jawapan kerajaan Brunei kepada mereka.
Dalam negara2 kamu, kamu mengamalkan kebebasan bersuara, kebebasan media, kebebasan beragama dan lain2. Ianya di dalam perlembagaan kamu, ianya sistem politik kamu, identiti negara kamu, hak kamu, aturan cara hidup kamu.

Dalam negara saya, kami mempraktikkan kemelayuan, islamik, sistem monarki dan kami akan mula mengamalkan undang2 islam, undang2 syariah. Islam berada di dalam perlembagaan kami, identiti negara kami, hak kami, aturan cara hidup kami.

Kami mungkin menjumpai kelopongan2 dalam undang2 dan sistem keadilan kamu dan kamu mungkin menjumpai kelopongan2 pada kami pula, akan tetapi ini adalah negara kami. sepertimana kamu mengamalkan hak kamu untuk gay dan lain2. Kamu lakukannya untuk dunia ini yang kamu diami sekarang, sedang kami mengamalkan hak kami menjadi muslim untuk dunia ini dan dunia selepasnya.

ini adalah negara islam yang mengamalkan undang2 islam. mengapa tidak kamu risaukan anak2 kamu yang ditembak di sekolah2 kamu, penjara kamu yang gagal menempatkan org2 yg tertuduh, kadar ketinggian jenayah dan DUIs, kadar bunuh diri dan pengguguran yang tinggi dan apa2 yang patut dirisaukan DISANA. banyak agama yang menentang homoseksualiti, ianya bukan sesuatu yang baharu. Saat kamu mendengar bahawa islam dan muslim membuat pendirian dan meneguhkan kepercayaan mereka, kamu menghakimi, kami memboykot, kamu katakan ianya salah, ianya bodoh, ianya kejam.

Sekali lagi, pergilah kpd kebimbangan yang kamu patut tumpukan pada yang telah saya beritahu sebelum ini. Tidak salahkah membenarkan senjata2 membunuh, tidak salahkah membenarkan bayi yang belum lahir dibunuh, tidak salahkah membenarkan gaya hidup yang membawa pd AIDS dan kerencatan pada generasi baru?

Mengapa terlalu risaukan tentang apa yang terjadi disini di dalam negara islam sedang kamu tidak pun membuka mata tentang apa yg berlaku di Syria, bosnia, rohingnya, palestin, dan lain2. Ribuan terbunuh disana dan kamu masih tidak peduli, tiada seorang terbunuh disini dibawah undang2 syariah, dan kamu kecoh menggembar-gemburkan ia, walaupun penduduk di sini yang secara langsung terkesan darinya, menerimanya dengan aman. Hukuman mungkin sedikit keras tak bermakna ianya mudah untuk dilaksana. Di sana ada proses2 yang perlu dijalani sebelum boleh disabit bersalah. Kami baik2 saja dengannya, malah gembira.